Pages

Rabu, 19 Oktober 2011

cerpen: Surat Persahabatan


Hari yang panas,memproduksi keringat berlebih, sama sekali tak ku hiraukan, hanya cara tercepat mengayuh sepeda kecilku yang ada di pikiran. Jalan tercepat dari sekolah sampai ke rumah yang aku cari. Setiap orang di jalan yang aku lewati memasang tatapan beda. Mungkin mereka bertanya untuk apa anak kecil mengayuh sepeda berkecepatan minimal dengan tergesa-gesa. Entahlah, aku masih tetap cuek dengan tatapan itu atau segala hiruk pikuk yang terjadi sana.
                Rumah sederhanaku mulai terlihat dan sampailah aku. Hampir setiap pulang sekolah, aku melakukan rutinitas ini. Biasanya setelah aku mengirim surat balasan untuknya. Rutinitas bertanya kepadanya(seseorang yang membantu membersihkan rumahku) apakah Pak pos telah berkunjung hari ini. Jawabannya mengecewakan, yang mampu mendepakku masuk ke kamar dengan semangat lesu. Wajah cerah mulai muram. Menyendiri di kamar dan memikirkan hal positif tentangnya mengapa belum membalas suratku yang ku kirim sebulan yang lalu. Mungkin banyak PR, belum beli perangko, Pos salah kirim, atau alasan-alasan sederhana yang dipikirkan anak kelas 3 SD.
                Untuk menghibur diri, seusai belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah, aku biasanya menulis buku harian. Buku itu adalah kado dari ibu saat ulang tahunku tahun kemarin. Yang aku rayakan tanpa kehadirannya. Dengan alasan sekolahnya belum libur semester, jadi ia tidak bisa datang. Buku harianku bergambar Winnie the Pooh dan kawan-kawannya(salah satu tokoh kartun), berwarna biru tua, dan ada gembok kecil menempel di sana. Aku sangat menyukainya, jadi dengan telaten aku selalu menulis kejadian-kejadian berkesan di dalamnya.
                Itu adalah surat terakhir yang ku kirimkan kepadanya. Dan ia tidak pernah membalasnya. Sekitar 3 tahun aku putus hubungan dengan Mi, sahabat pertama yang aku miliki. Dia bukanlah teman rumahku, aku mengenalnya di sekolah saat kelas 1 SD.  Kemudian Ia pindah ke luar kota saat semester akhir kelas 3 SD. Alasannya karena terjadi suatu peristiwa kepada adiknya. Suatu peristiwa yang tidak enak jika di ceritakan. Tetapi saat lebaran(3 tahun setelah surat terakhirku), secara mengejutkan Ia bersilaturahmi ke rumahku dengan keluarganya. Hubunganku dengan Mi, masih baik-baik saja dan akrab, seperti dulu.
                Sesudah pertemuan itu, kami tidak mengetahui keadaan satu sama lain lagi. Aku menjalani hidupku seperti biasa, mengenal teman-teman baru dan mendapatkan sahabat baru. Tidak terlalu mengharapkan Mi lagi, seperti ketika dulu awal berpisah dengan Mi. Aku masih konsen dengan sekolahku. Aku mencoba mendaftar SMP dan SMA yang kurasa terbaik di kotaku untuk menguji kemampuan. Dan aku bersyukur semua itu tercapai. Tak sengaja saat melihat papan nama siswa yang diterima di SMA itu aku menemukan nama Mi, aku sangat senang. Aku berharap bisa membangun hubungan yang baik dengannya lagi. Karena memang di SMA itu aku merasa sedikit terasing, hanya beberapa orang satu SMP yang aku kenal.
                Pernah suatu saat aku berpapasan dengan Mi, dia juga melihat ke arahku. Dengan perasaan tak yakin aku menyapanya. Dia menyambut sapaanku dengan biasa saja. Bahkan terkesan kami tidak pernah saling kenal sebelumnya. Itu adalah terakhir kali percakapanku dengannya, bahkan setiap berpapasan kita tak pernah lagi saling sapa. Dia kini berubah, tak seperti Mi yang ku kenal. Semua tak sesuai harapan, tetapi kehidupan harus terus berjalan. Kurasa, sahabat tidak selalu akan menjadi sahabat. Dengan ini, aku mengerti istilah mantan sahabat, yang dianggap kebanyakan orang  istilah itu tidak pernah ada. c@y

1 komentar:

allessandro on 26 Oktober 2011 pukul 04.26 mengatakan...

wow mantap..

Posting Komentar